Selasa, 30 November 2010

17 MARET

Pagi itu pagi yang indah yang pernah terlihat dalam lintasan pandang hidup, setelah sekian lama menanti momentum itu, akhirnya pagi ini aku harus memulai langkah hidup baru bersama pasangan hidupku tepat di hari Rabu, 17 Maret 2010.

Ini adalah keajaiban TUHAN, perasaanku saat itu mengatakan seperti itu, kenapa aku bisa melangkah berani seperti ini? Setahun yang lalu, keberanianku ciut tatkala kesempatan mendapatkan pasangan hidup tak juga aku temui. Banyak sekali rangkaian peristiwa pertemuan dengan lawan jenis aku lampaui tapi tak satupun yang bisa membuatku menambatkan hati dan perasaanku pada mereka tapi TUHAN telah menggariskan sebuah titik awal kehidupan baru bagi diriku tepat di usiaku yang menginjak tiga dasawarsa.

Berawal dari sebuah pesan singkat yang hinggap malam itu, tak terduga pesan itu sebagai ruang bertemunya dua insan manusia beda jenis kelamin, beda jenis watak, beda jenis karakter dan masih banyak lagi perbedaan tapi dipersatukan oleh satu rasa, satu jiwa, satu keinginan, sebuah keinginan suci merajut tali kebersamaan bersama dalam ikatan pernikahan.

Dari awal pertemuan pertemuan pertama disuatu institusi pendidikan tinggi bagi pendidik di kota kembang, kami saling mengagumi dan saling suka walaupun hal itu berjalan singkat namun itu sudah memberi kesan bagi aku dan dia untuk bisa saling menatap dan berharap akan ada pertemuan lagi kelak disuatu waktu dan tempat yang indah. Harapan tinggal harapan ternyata pada waktu itu dia sudah mempunyai pacar, dan kekecewaan pun tidak bisa kututupi. Aku kembali ke rutinitas ku walau keinginan untuk bersama dia masih ada dan terus ada, namun kenyataan berkata tidak.

Satu tahun berlalu, dua tahun berlalu, tiga tahun berlalu dan baru tahun keempat kami dipertemukan kembali. Masih sama diwaktu pertemuan pertama, pertemuan kedua ini dia menyapa terlebih dahulu melalui pesan singkat di dinding Yahoo Messenger miliku.

Dia berkata..."Assalammu'alaikum...gimana kabarnya mas...???", sejenak aku terhenyak, apa yang terjadi disiang ini, apakah benar dia atau siapa....???. Kemudian aku jawab sapaan dari dia..."Waalaikumsalam...Alhamdulillah kabar baik...gimana kabar disana...???", dan obrolan kami pun kemudian menjadi hangat kembali setelah empat tahun lamanya sejak pertemuan pertama di kota kembang itu kami akhirnya dipertemukan kembali.

Hingga pada saat yang aku rasa tepat, aku nyatakan keinginanku pada dia melalui perbincangan di Yahoo Messenger, bahwa aku ingin memiliki dia lebih dari segalanya dalam satu ikatan pernikahan yang suci. Dan apa jawabannya, dia tidak menjawab dan tidak menolak atas ungkapan persaanku ke dia, hanya dia mengatakan, "kapan mas mau main ke cirebon...???", ini dia yang aku harus ambil kesempatan yang dia utarakan. Baiklah kalau itu keinginan dia, maka aku niatkan untuk mempersiapkan diri silaturahmi ke orang tuanya dan mengutarakan maksud baikku ini kepada dia dan kedua orang tuanya.

Akhirnya pertemuan itu terjadi walau harus tertunda selama sepekan karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan di Jakarta. Awal pertemuanku dengan dia, begitu terkesan, dia sungguh sangat berbeda, tampil anggun, cantik dengan polesan make up yang sangat tipis dan sederhana dan pembawaan yang riang dan penuh kegembiraan dia menyambutku di depan pintu gerbang Stasiun Cirebon.

Satu dua kalimat mulai membuka obrolan kita sore itu, sembari menikmati senja hari kota Cirebon dengan menaiki becak khas kota itu, kemudian dilanjutkan dengan makan sore berdua disalahsatu pusat jajan sederhana yang kemudian hari menjadi langganan kita berdua untuk melepaskan akhir pekan bersama di kota Cirebon. Menjelang Maghrib, kami pun tiba dirumah dia, berada disalahsatu perumahan yang sederhana namun asri, aku disambut ramah oleh kedua orang tuanya. Dan akhirnya momentum yang telah lama aku pendam itu sore itu aku ungkapkan didepan kedua orang tua dia. Aku utarakan maksud dan keinginanku untuk melamar dia...ERLINDA VALENSIA...sebagai isteriku dan dengan niat baik akan menikahi dia secara baik dan benar...

Alhamdulillah, sungguh diluar dugaanku kedua orang tua dia, menerima dengan baik niatan baikku dan mereka mengharapkan untuk mengenal keluarga saya dan selanjutnya kalau sudah ada keinginan itu maka lebih baik disegerakan. Setelah sekian bulan kami melakukan pengenalan baik secara pribadi kami masing-masing maupun diantara keluarga besar kami, maka sebuah hari, sebuah tanggal dan waktu telah ditentukan oleh semua keluarga dan kami untuk menjadikan hari itu sebagai hari yang penuh bahagia, penuh makna, penuh arti bagi kehidupanku, kehidupan dia, dan bersatunya dua keluarga besar.

Akhir kata, aku hanya bisa mengucapkan ALHAMDULILLAH...hari RABU, 17 Maret 2010 adalah hari yang bersejarah bagiku dan awal bagi kehidupanku.

Hanya ALLAH SWT yang BERKUASA atas segalanya, dan dengan kehendaknya segala sesuatu itu bisa terjadi...

I LOVE YOU...VE....

menjelang pulang kantor...

Pagi hari istri menawarkan sarapan pada suami.....

Jawab Suami :  "Tidak usah say, ini aja sarapanku (sambil mencium bibir istrinya)....."

Siangnya, istri menawari makan sop kambing....

Suami menjawab : "Tidak usah say.... Ini aja makan siangku (sambil mencium dada istrinya)....."

Sore pulang kerja, suami kaget melihat istrinya duduk diatas rice cooker tanpa celana dalam....

Suami bertanya : "ngapain km say...?"

Istri menjawab : "lagi NGANGETIN MAKAN MALEM PAPA NIH........"

Rabu, 18 Agustus 2010

Minggu, 24 Februari 2008

Gusti Allah Mboten Sare

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.

Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan.

Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana.

Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.

Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan... ," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja."

Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.

Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih.

Namun, agaknya saya keliru...

"Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya."

Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan......" .

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba- Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak dibenak saya. "Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan.

Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare..... Gusti Allah Ora Sare.....

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.

Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan. ..Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.

Aku berdoa agar diberikan kecerdasan.. ..Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.

Aku berdoa agar diberikan keberanian.. .Namun, Allah memberikanku persoalan agar aku mampu menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang..... Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.

Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan. ..Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.

Pejompongan, 22 Februari 2008

Kamis, 14 Februari 2008

stres...

stres...kalimat apa itu...????
apakah itu sejenis mahluk atau apa...???
stres...kata-kata itu yang membuat kita merasakan kesesakan batin dan pikiran....
stres...sungguh tidak kita inginkan...
Tapi kenapa stres itu selalu hadir ditengah kehidupan kita...

Lagi dan lagi kita selalu dihantui oleh ketakutan akan hadirnya stres...
Satu persoalan hadir dengan diawali dengan stres...
Dua persoalan hadir dengan juga diawali dengan stres...
akan-kah kita terus terbelit dengan stres...

T I D A K

Kita harus bangkit dan melawan terhadap stres...

L A W A N

dan

L A W A N

Kepasrahan dan selalu bersyukur akan nikmat ALLAH SWT adalah kuncinya...
Tanpa itu kita akan selalu ditindas dan diperdaya oleh stres...
sekali lagi waspadalah...
waspadalah...
dan tetap waspada...

sobat

sobat hadir tanpa kita paksa untuk hadir...
sobat hadir karena kita butuh dia untuk hadir...
tapi akankah kita masih membutuhkan hadirnya sahabat...
atau kita memang merasa butuh akan kehadiran sahabat...
sebuah pertanyaan aneh...
memang aneh...
sungguh sangat aneh...

Tapi memang arti sebuah sahabat itu aneh dan sangat aneh...
dia hadir ketika kita sangat terhujam akan kesengsaraan dan ketertindasan...
Tapi ketika kita sangat lapang dan lega dalam merentas kehidupan...
seolah-olah sahabat tidak ada artinya...
memang aneh...
dan sungguh aneh...

Seorang sahabat selalu ada dikala keterpurukan dan kesenangan itu hadir...
Tapi sekali lagi sahabat adalah mahluk yang aneh karena dia selalu bersedia untuk menemani kita dalam gelapnya hujaman cobaan dan terangnya keindahan dunia...
Terima-kasih sahabat...

sore itu...

Hujan tampak mulai hadir dikeremangan sore kota Yogya, disaat aku mulai dihinggapi rasa ketidaknyaman dalam hidup. Sungguh ini tidak aku inginkan, apa yang sebenarnya yang terjadi dalam diriku. Akankah aku harus terus terkungkung dalam ruang hampa yang terus membelenggu alam pikir dan alam sadarku? atau aku harus mencoba melompat dan menemukan sesuatu yang pernah ada dalam kehidupanku waktu itu.

Sore itu aku berusaha untuk bangkit dan melawan bayangan gelap ini. Disaat aku terjerembab dalam bayangan hitam, aku masih sangat beruntung karena memiliki seorang Ibu yang selalu perhatian terhadap ananda-nya yang dalam situasi apapun dia selalu menjadi tempat untuk berteduh dari segala permasalahan yang ada pada anaknya.

Keyakinan hidup segera hadir dalam alam sadarku meskipun harus melewati ritualitas terapi yang harus aku jalani dalam sedepa waktu kedepan. Sungguh ini proses perjuangan yang berat tapi ini harus aku jalani demi merentas sebuah harapan yang hilang dalam waktu yang lama.

Hanya keyakinan dan terus memohon kepada-Nya, semoga ini semua cepat berlalu dan bisa menemukan kembali sesuatu yang hilang itu.